KALIMANTAN | Dikonews -

Dari 138 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dideportasi pemerintah Kerajaan Malaysia melalui Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur, ternyata 12 di antaranya lahir di Sabah Malaysia. Kok bisa? Mereka bahkan tak punya kartu tanda pengenal (KTP).

Dari 12 orang tersebut terdiri dari 10 laki-laki dan 2 orang perempuan. Mereka pun langsung didata oleh petugas Kantor Imigrasi Nunukan di Terminal Pelabuhan Internasional Tunon Taka Nunukan, sekaligus diidentifikasi dengan mengambil gambar diri.

Salah seorang TKI deportasi yang lahir di Sabah Malaysia bernama Didi Fablo, ia mengaku dirinya dideportasi ke Nunukan karena tersangkut kasus perampokan di Kota Kinabalu Sabah.

“Saya rampok uang milik orang yang sedang jalan kaki,” ujar Didi singkat, Jumat (12/4/2013). Didi pun akhirnya divonis oleh Mahkamah (Pengadilan) Kota Kinabalu Sabah dengan hukuman 8 bulan penjara.

Didi dengan jujur mengakui ayahnya adalah warga negara Malaysia dan ibu kandungnya berasal dari Sulawesi Selatan. Namun dirinya tidak memiliki identitas kewargaanegaraan Malaysia sampai saat ini.

“Saya punya bapak orang Malaysia dan ibu asal Sulawesi (Selatan). Tapi saya tidak punya IC (identity card) Malaysia,” ujarnya di sela-sela pendataan oleh aparat kepolisian dan Balai Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Nunukan.

Pria kelahiran 1983 di Tawau Sabah dari pasangan H Rumi dan Montoya itu pun meminta untuk dipulangkan kepada kedua orang tuanya.

Hal yang sama dikatakan Jayceleen Darlis, TKI deportasi yang lahir di Malaysia tahun 1994 di Sandakan Sabah. Dia memiliki orang tua berkewarganegaraan Indonesia yang telah lama berdomisili di Malaysia. Ia pun mengaku tertangkap oleh aparat kepolisian Diraja Malaysia, karena tidak memiliki identitas baik paspor Indonesia maupun IC Malaysia.

“Saya punya ibu kandung Suku Banjar dan bapak Suku Tidung (Malaysia),” ujar Jayceleen. (Ant/Tnt)

Kirim Komentar Anda

Email anda tidak akan di tampilkan.